Thursday, February 14, 2013


Hikmah kehilangan


Lama sudah saya tidak menulis. Semenjak saya menutup account Facebook saya Februari tahun lalu.  Seminggu lalu saya menonton film “The Words”, film yang bercerita tentang bagaimana seorang lelaki tua melalui masa hidupnya yang luka semenjak kehilangan tulisan yang begitu bernilai. Naskah cerita  tentang kehidupannya yang kemudian ditemukan tanpa sengaja oleh seorang penulis muda dan kemudian disalin menjadi sebuah buku dan diakui sebagai tulisannya sendiri. Akhirnya lelaki tua penulis aslinya berjumpa dengan penulis muda yang kemudian menjadi malu dengan kesalahannya atas tindakan plagiatnya. Bagi lelaki tua dalam cerita tersebut menulis adalah bagian penting dalam kehidupannya. Menulis seperti bernafas untuk hidup. Menulis adalah segalanya.  Film tersebut kemudian menginduksi saya untuk menulis lagi.  Beberapa waktu yang lalu sesungguhnya saya telah berencana untuk menulis kembali. Namun pada tanggal 7 Februari 2013 jam 10.00 pagi rumah saya dibobol tamu tak diundang. Sejumlah barang seperti laptop, Ipad,  dua buah  eksternal memori dicuri. Seluruh data yang saya simpan di laptop, Ipad, dan kedua  eksternal memori hilang bersama perangkat kerasnya. Data research, hasil penelitian, tulisan-tulisan yang akan saya jadikan buku, foto dan video penting lenyap sirna.  Saya kehilangan.

Ketika polisi melakukan penyidikan di rumah, saya banyak merenung dan  teringat akan apa yang sering kali saya sebutkan kepada banyak orang terutama kepada pasien-pasien saya ketika mereka mengalami kehilangan. “Kita boleh kehilangan apa saja, boleh kehilangan siapa saja. Tapi jangan pernah kehilangan satu hal. Hal itu adalah HARAPAN”. Kata-kata ini menggema di ruang bathin saya. Dan sungguh menghibur dan menguatkan saya. Saya ikhlaskan dan relakan.  Tuhan sedang menguji keteguhan saya akan keikhlasan. Dan kehilangan ini hanyalah satu cara Tuhan mengirim pesan untuk saya. Kehilangan ini saya sikapi secara positif dan optimis.  Kemudian menumbuhkan ide untuk membuat security system di rumah menjadi lebih secure kalau bisa menjadi  sehebat Pentagon. Dan berpikir untuk lebih hati-hati.  Saya percaya bahwa apa yang menjadi hak kita maka akan kembali kepada kita.
Hidup bagi saya adalah perjalanan di atas gelombang suka duka. Ketika suka datang tidak  saya habiskan...selalu saya simpan sebagian karena duka sedang menunggu di depan pintu. Begitu pula sebaliknya ketika duka datang walau sedalam-dalamnya, tak perlu terlarut dalam kesedihan. Karena suka telah siap datang menghibur. Seorang sahabat pernah berujar:" Ketika kita memiliki rasa syukur dan ikhlas maka kita akan terhindar dari cedera suka dan duka". Selamat pagi. Happy Valentine's day.


Wednesday, January 12, 2011

Pintar merasa, bukan merasa pintar.


by Hariyasa Sanjaya on Monday, January 10, 2011 at 3:37pm

Saat transit di Bandara Antar Bangsa Soekarno-Hatta, perjalanan dari Denpasar menuju Kota Padang (Sumatra Barat) untuk perjuangan "menyebarkan" gerakan "back to nature in child birth" saya baca buku "Female brain:mengungkap misteri otak perempuan" ditulis oleh seorang psikiatris Dr.Louann Brizendine, buku ini cukup fenomenal dan menggigit buat saya.

Pergolakan pemikirannya dan keberanian menantang konsep psikoanalisa sungguh saya kagumi.

Brizendine mengungkap fakta bahwa hingga usia delapan minggu, semua otak janin kelihatan berjenis perempuan. Jenis perempuan adalah pemasangan gender yang sudah ditentukan oleh alam. Jika kita amati perkembangan otak perempuan dan laki-laki melalui fotografi-prosesor, kita akan melihat diagram-diagram area keduanya ditata mengikuti rancangan yang dibuat oleh gen maupun hormon seks.

Suatu gelombang besar testosteron yang dimulai pada minggu kedelapan akan mengubah otak uniseks menjadi otak laki-laki. Caranya adalah dengan mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi. Jadi ini menjelaskan mengapa lelaki lebih mudah memilih perang dari pada diplomasi.

Jika gelombang testosteron ini tidak terjadi, otak perempuan ini terus tumbuh tanpa gangguan. Sel-sel otak janin bayi perempuan ini menumbuhkan lebih banyak lagi sambungan di pusat-pusat komunikasi serta area-area yang memproses emosi.

Perbedaaan ini kemudian membentuk perbedaan antara perempuan dengan laki-laki. Bayi perempuan akan lebih suka bicara dari pada saudara lelakinya. Laki-laki menggunakan sekitar 7.000 kata per hari. Perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari.

Dan perempuan memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dibanding lelaki dalam membaca emosi orang sekitarnya.

Sejak lahir, bayi perempuan sudah berminat pada ekspresi emosi. Mereka mendapat makna tentang diri mereka berdasarkan tatapan, sentuhan, dan setiap reaksi dari orang-orang yang melakukan kontak dengan mereka. Dari petunjuk-petunjuk ini, mereka mengetahui apakah mereka berharga, layak dicintai, atau menjengkelkan.

Anak-anak perempuan tidak menoleransi wajah yang datar. Mereka menafsirkan wajah tanpa emosi yang diarahkan kepada mereka sebagai sinyal bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Wajah yang tak ekspresif sangat membingungkan seorang anak perempuan.

Gelombang pasang estrogen dan progesteron mulai menyalakan banyak sirkuit dalam otak gadis remaja yang telah tersusun dalam janin. Gelombang hormon baru ini membuat semua sirkuit otak perempuannnya menjadi semakin peka terhadap perbedaan emosi, seperti persetujuan dan penolakan.

Di buku ini banyak pertanyaan dijawab seputar keunikan perempuan. Seperti:"mengapa perempuan tahu apa yang dirasakan orang lain, sedangkan lelaki tak dapat melihat emosi kecuali seseorang menangis?" Dan pertanyaan lain:"mengapa pikiran tentang seks memasuki otak perempuan setiap dua hari sekali tetapi memasuki otak lelaki hampir setiap dua menit?"

Buku ini layak dibaca oleh perempuan dan tentu wajib dibaca lelaki. Secara konteks dan penyajian, buku ini menggunakan kelenturan yang cukup baik dalam bahasa yang lebih dekat yaitu bahasa populer. Saya bisa mengerti mengapa Daniel Goleman,penulis Emotional Intelligence memuji Brinzendine karena telah melakukan terobosan yang menakjubkan bagi laki-laki yang ingin mengetahui anehnya cara perempuan berpikir. Buku ini mencerahkan dan banyak kejutan.

Sahabat saya sering mengingatkan perbedaan orang biasa dengan orang bijak. Orang biasa sering merasa pintar, namun orang bijak selalu berusaha pintar merasa. Setelah membaca buku "Female brain" saya berkesimpulan bahwa perempuan adalah mahluk bijak karena lebih pintar merasa. Dibanding lelaki yang sering mengaku dan merasa pintar.

Salam

Sunday, September 5, 2010

Berdamai dengan masa lalu


Suatu hari sepasang suami istri datang kepada saya. Mereka telah menikah lebih dari 5 tahun namun belum saja dikaruniai seorang anak pun.
Mereka telah berusaha dan berjuang untuk bisa memiliki momongan namun semua upaya belum berbuah hasil yang diharapkan.
Begitu banyak pemeriksaan baik pada sang istri dan sang suami telah dilakukan. Dan hasilnya semuanya baik-baik saja.
Semua dokter menyarankan kepada mereka untuk terus berusaha,berjuang dan bersabar.
Salah satu dokter menyarankan mereka untuk mencoba dengan bayi tabung. Namun biaya untuk usaha itu sungguh mahal bagi mereka.
Mereka kemudian berjumpa dengan saya atas saran sahabatnya.
Saya banyak bertanya tentang pemeriksaan yang telah dilakukan mereka, riwayat kesehatan dan penyakit yang mereka miliki serta pada keluarga mereka (orang tua, dan saudara-saudara mereka). Dan saya juga menanyakan bagaimana hidup mereka sehari-hari (pekerjaan, suasana kerja, suasana rumah dan hubungan interpersonal diantara mereka berdua).
Mereka kemudian bercerita tentang masa lalu mereka dan perjumpaan mereka sampai mereka menikah.
Saat kemudian sang istri menangis dan kemudian bercerita tentang pengalaman sedih yag dia alami saat mengetahui bahwa suaminya sempat memiliki hubungan "lain" dengan wanita lain saat tahun pertama kehidupan rumah tangga mereka.
Sang suami mengakui dan dengan ekspresi penuh penyesalan sang suami mengucapkan maaf kepada istrinya di depan saya.

Kemudian........
Saya mencoba mengerti dan memahami keadaan mereka.
Saya hanya berucap:"Jangan bersedih, semua orang pernah dan mungkin akan berbuat salah. Dan saya yakin hampir semua rumah tangga pernah mengalami masalah dan konflik. Karena kita masih manusia yang bisa lupa, lalai dan khilaf. Saran saya mulailah untuk bisa benar-benar menerima masa lalu itu dan memulai untuk bisa berpikir positif dan optimis. Saya percaya tidak ada yang tak mungkin jika kita benar-benar mengusahakan dan berjuang mencapainya".

Sang istri nampak sedikit tenang dan mengeringkan air matanya.
Sang suami mulai tampak lega dan menunjukkan pancaran mata yang bersemangat.

Saya kemudian membuatkan program "be optimist to be pregnant" untuk pasangan ini.

Dan 3 bulan kemudian anugrah yang terindah untuk pasangan ini datang.
Sang istri terlambat haid dangan membawa hasil pemeriksaan urin untuk kehamilan sebanyak 5 buah dengan hasil yang positif (2 garis).

Saya lakukan pemeriksaan dengan USG dan kehamilannya normal di dalam rahim dengan usia kehamilan 6 minggu.

Mereka berhabagia dan sangat bersyukur dimana anugrah TUHAN datang satelah mereka menerima dan berdamai dengan masa lalu.

Saya mendapat pelajaran yang sangat penting. Bahwa kita harus bisa berdamai dengan masa lalu agar masa lalu tidak terus saja kita pikul sebagai beban kemana pun kita berjalan di hari ini dan di hari esok.

Salam damai.

Sunday, January 11, 2009

Mengapa kita memilih jenis kelamin anak?


Saya hari ini membaca buku berjudul:"Pilih sendiri jenis kelamin anak anda".Oleh penerbitnya di sampul depan ditulis "Dengan metode Shettles yang praktis dan telah terbukti secara ilmiah di banyak negara". Buku ini ditulis oleh Landrum B.Shettles,M.D, PhD dan David M Rorvik. Buku ini oleh penerbitnya diklaim sudah terjual lebih dari 2 juta kopi.

Teknik yang ditawarkan oleh Shettles lebih banyak kepada pengenalan akan perubahan dan tanda-tanda pada saat menstruasi seperti perubahan lendir leher rahim (cervical mucus).
Namun, saya kembali pada pertanyaan dasar yaitu: haruskah kita memilih jenis kelamin anak? Dan untuk apa?
Tidakkah akan terjadi gendercide, sehingga akan sangat sedikit jenis kelamin tertentu. 
Misalnya untuk masyarakat Bali yang "mewajibkan" memiliki anak lelaki akan menciptakan sebuah demografi penduduk yang lebih banyak lelakinya dari pada perempuan.

Mengapa kita tidak membiarkan saja alam mengatur seperti iramanya.
Saya sering bertemu dengan permintaan pasangan akan jenis kelamin tertentu. Kebanyakan menginginkan anak laki-laki.
Haruskah kita memilih ?
Buku ini memberikan pedoman praktis. Walau saya masih belum terlalu yakin dengan klaim keberhasilannya. 
Dan jika benar buku ini bestseller, ini membuktikan bahwa masih sangat banyak orang memilih jenis kelamin untuk anaknya.

Hmmmm.....................
...

Monday, January 5, 2009

Thursday, December 25, 2008

Lotus Birth

Beberapa hari yang lalu saya melayani ibu hamil yang meminta persalinan dimana pengelolaan kala tiganya dengan lotus birth.Dimana tali pusat tetap menyatu dengan plasenta dan bayi setelah lahir. Ini kasus pertama yang saya tangani dan merupakan sebuah pengalaman yang penuh perenungan menarik. Saya kutip penjelasan tentang Lotus Birth dari Wikipedia.

Lotus birth

From Wikipedia, the free encyclopedia

Lotus birth, or Umbilical Nonseverance, is the practice of leaving the umbilical cord unclamped and intact following birth.
Lotus Birth, Day 3 postpartum, the sinew-like unwrapped cord seen at left side of child, just hours before natural detachment. 2007

Rather than intervening upon the normal physiological process of the neonate, Umbilical Nonseverance relies on the Wharton's jelly changes which produce a natural internal clamping within 10-20 minutes postpartum. The umbilical cord then dries to a sinew and naturally detaches from the umbilicus. Detachment generally occurs 2-3 days after birth.

The World Health Organization emphasizes the importance of a unified approach to care of the mother and the baby, and clearly states (in Care in Normal Birth: A Practical Guide, Geneva, Switzerland, 1997)[1]"Late clamping (or not clamping at all) is the physiological way of treating the cord, and early clamping is an intervention that needs justification.” Furthermore, the physiological process of Nonseverance supports placental transfusion in its purest form, as there is no point at which anyone, other than the baby, decides when the placental transfusion is complete.[1] This will be individual to each baby, based on its physical condition at birth

When Umbilical Nonseverance or Lotus Birth is practiced, rarely in hospitals but more common in birth centers and home births, maternal-neonatal bonding proceeds uninterrupted, which is beneficial for both mother and newborn WHO's Third Stage Protocols. While care providers conduct immediate Apgar scoring and any needed neonatal suctioning/stimulation, most further procedures are postponed until an hour after the birth. The baby-cord-placenta unit is swaddled by the mother in-arms, or held by a father or nurse during maternal suturing.

Different cultural practices use the preserved placenta in different ways. Some people prefer for the child to have the placenta so that it can be buried with the child at the end of his or her life. Others keep the placenta until it falls off naturally and it is then buried, the Igbo people in Nigeria bury the placenta right after birth and often a tree is planted over it.

Extended-Delayed Cord Severance Care, Intact Umbilicus One Hour Postpartum. 2006

For Full Nonseverance/Lotus Births, the excess fluids are wiped off the placenta and it is kept in an open bowl or wrapped in a cloth, in close proximity to the neonate. The cloths used to wrap the placenta or cover a bowl must allow air through, so that the placenta can air and begin to dry out and not become malodorous. Sea salt is often applied to the placenta to help dry it out. Sometimes essential oils, such as lavender, or powdered herbs such as goldenseal, neem, along with lavender are also applied for their additional antibacterial properties. If drying applications are not applied the well-aired placenta will have a distinct, musky scent which can be halted by directly planting it or by refrigerated storage after the first postpartum week.

In hospitals and global medical centers, common medical training and practice is "Active Management" of Third Stage Labor: administration of oxytocic drugs, immediate external clamping of the cord at birth, cutting it forthwith, then applying traction to the cord to speed the birth of the placenta [2] rather leaving the cord-placenta-baby unit intact to provide for, as proponents of claim, a physiologically gentle transition of mother and baby. The cord blood may or may not be harvested for cord blood banking. The baby's umbilical cord and placenta are then disposed of as medical waste or sold to laboratories.

Early American pioneers, in written diaries and letters, reported practicing nonseverance of the umbilicus as a preventative measure to protect the infant from an open wound infection.[3]

The practice gained notice in the yoga practitioner community when Jeannine Parvati Baker, author of the first book on prenatal yoga in the West, Prenatal Yoga & Natural Childbirth practiced umbilical nonseverance for two of her own births, seeing it as a practical application of the yogic value of ahimsa as well as the core yoga teaching inherent in the primal bonding process that "All attachments will fall away of their own accord."

In the 1990s, Sarah Buckley MD, an Australian family physician and noted parenting advisor for the magazine Mothering, published her personal birth stories in the text Lotus Birth, and has produced numerous scholarly publications of her research on the physiological benefits of Passive Management of Third Stage Labor.[4]

Umbilical nonseverance, or Lotus Birth, is an informed choice option currently practiced by a minority of homebirth and hospital birth families [See the research of Sarah Buckley, M.D. and Int'l Midwife Robin Lim], and an increasingly popular continuing education topic for licensed midwives and certified nurse midwives in publications such as the magazine Midwifery Today and Mothering. Particularly compelling to these professionals is the reported absence of healthy neonatal weight loss and breastfeeding jaundice in lotus birth scenarios, as yet formally studied.

Umbilical Nonseverance, postpartum water immersion shortly after homebirth, 2005

Although recently an alternative birth phenomenon, delayed umbilical severance has been plentifully recorded in the cultures of the Balinese [5] as well as aboriginal people such as the !Kung. Modern practitioners of Lotus Birth point out that those mammals with whom humans share 99% genetic material, the chimpanzees[6] leave the umbilicus intact, neither chewing or cutting it, a fact known by primatologists. Therefore, the medical practice of immediate cord clamping and cutting, and its physiological impact is questioned by parents who choose partial or full Nonseverance.

In Tibetan and Zen Buddhism, the name "Lotus-Birth" was what described spiritual teachers such as Gautama Buddha and Padmasambhava (Lien-hua Sen), emphasizing their entering the world as an intact, holy child. References to Lotus Birth are also found in Hinduism, for example, the story of the birth of Vishnu.[citation needed]

Religious Jews and Christians who choose umbilical nonseverance see it relevant to the strength of Ezekiel who was cast out of his tribe but became a divine visionary, or prophet. Ezekiel 16:4 of the Bible, "As for your birth, the day you were born your navel cord was not cut."

  1. ^ Examination of the Newborn & Neonatal Health, A Mulidimensional Approach, p. 116
  2. ^ "Management of the Third Stage of Labor". Retrieved on 2007-12-29.
  3. ^ Leavitt, Judith Walzer. Brought to Bed: Childbearing in America, 1750 to 1950. New York: Oxford University Press, 1986 pp.21-37
  4. ^ Buckley, Sarah. "Leaving well alone: A natural approach to the third stage of labour". Retrieved on 2007-12-29.
  5. ^ see Eat, Pray, Love by Elizabeth Gilbert, pp. 252-252
  6. ^ see In the Shadow of Man, by Jane Goodall, who was the first person to conduct any long term studies of chimpanzees in the wild, and reported that they did not sever their offspring's cords.

Merry Christmas and Happy New Year 2009


Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2009.
Semoga sinar kasih Tuhan menerangi jalan kita mengikuti perjalanan hidup ini.
Salam damai dan kasih

Hariyasa Sanjaya dan keluarga

Wednesday, December 17, 2008

www.hariyasasanjaya.com

Sahabat, saya kini membuka ruang di www.hariyasasanjaya.com yang mungkin relatif sama dengan blogspot.com namun di ruang ini menjadi lebih lega dan sistematik. Saya akan berpindah secara perlahan dan pasti ke www.hariyasasanjaya.com. Namun blogspot.com yang ada akan tetap ada sebagai penghormatan saya terhadap jalan menuju hari ini. Saya sangat mengormati dan selalu berterimakasih dengan apa yang terjadi di hari kemarin (atau masa lalu) karena tanpa hari kemarin saya tidak pernah bisa menemukan hari ini.

Terimakasih Mas Antok sudah nge-design web.blog untuk saya.