Sunday, October 26, 2008

Amniopatch: menambal robekan pada PPROM


Laporan kasus PPROM pada awal trimester kedua yang dilakukan prosedur amniopacth.



Manajemen pasien dengan PPROM sebelum usia kehamilan 23 minggu sering kali dilakukan terminasi kehamilan. Namun sejak 1996, saat dimulainya prosedur invasive intrauterine oleh Quintero, kasus PPROM di awal trimester kedua telah berhasil ditanggulangi dengan prosedur amniopatch (penambalan selaput janin- amniochorion membrane).

Penulis ingin menceritakan laporan kasus PPROM di awal TM 2 yang dilakukan amniopacth di RS Sanglah.

LM,28 thn ,G1, 19-20 minggu, PPROM. ANC di Sp.OG tiga kali kunjungan , air ketuban sebelumnya didapatkan normal saat kunjungan ANC. Setelah terjadi PPROM, air ketuban habis. usia janin 19-20 mg. Pada evaluasi USG tampak kedua ginjal janin dan terlihat kandung kencing janin.
Dilakukan amniopatch setelah hari ke-3 (setelah gagal konservatif).


Prosedur Amniopatch:

1. Pembersihan lapangan operasi dgn antiseptik betadin pada perut sekitar umbilikus

2. Dilakukan evaluasi pre-prosedur dgn USG dan penentuan target pungsi

3. Dilakukan pungsi dgn jarum spinal no 23G,dan dipasang 3 way

4. Dilakukan flushing dgn NaCl 0,9% 5 cc untuk membuat space antara dinding uterus dgn tubuh janin. Kemudian akan tampak free space

5. Dilanjutkan memasukkan Trombocit Concentrat autolog 30 ml

6. Memasukkan cryoprecipitate 20 ml

7. Flushing kembali dengan NaCl 0,9 % 3 ml

8. Jarum dicabut

9. Tempat tusukkan jarum ditutup dgn gaas betadine

10.Evaluasi janin dengan USG


EVALUASI POST PROCEDURE:
•Bed Rest selama 7 hari
•Evaluasi tanda vital sign, & tanda infeksi
•Lanjutkan Amoxicillin 3x500mg tab p.o.
•Jika ada tanda-tanda kontraksi uterus → Nifedipine 3x20mg
•Evaluasi USG hari ke-3 dan hari ke-7 post procedur
•12 jam post tindakan jika tidak ada keluhan boleh pindah ruangan


Namun pada evaluasi di hari ketujuh post-amniopatch, air ketuban tetap keluar dan tidak ditemukan air ketuban di rongga amnion.

Prosedur amniopatch gagal menutup robekan selaput ketuban yang terjadi spontan.

Kemungkinan robekan ini cukup lebar dan tidak berhasil ditutup.

Akhirnya kehamilan diterminasi atas permintaan pasien.


Keberhasilan amniopatch pada PPROM spontan memang lebih rendah dibanding PPROM iatrogenic pasca amniocentesis atau prosedur invasif intrauterin.

Namun prosedur amniopatch perlu terus dikembangkan untuk menjawab permasalahan PPROM di trimester kedua yang mengakibatkan persalinan preterm dan permasalahan prematuritas.


Salam


HYS