Sunday, January 11, 2009

Mengapa kita memilih jenis kelamin anak?


Saya hari ini membaca buku berjudul:"Pilih sendiri jenis kelamin anak anda".Oleh penerbitnya di sampul depan ditulis "Dengan metode Shettles yang praktis dan telah terbukti secara ilmiah di banyak negara". Buku ini ditulis oleh Landrum B.Shettles,M.D, PhD dan David M Rorvik. Buku ini oleh penerbitnya diklaim sudah terjual lebih dari 2 juta kopi.

Teknik yang ditawarkan oleh Shettles lebih banyak kepada pengenalan akan perubahan dan tanda-tanda pada saat menstruasi seperti perubahan lendir leher rahim (cervical mucus).
Namun, saya kembali pada pertanyaan dasar yaitu: haruskah kita memilih jenis kelamin anak? Dan untuk apa?
Tidakkah akan terjadi gendercide, sehingga akan sangat sedikit jenis kelamin tertentu. 
Misalnya untuk masyarakat Bali yang "mewajibkan" memiliki anak lelaki akan menciptakan sebuah demografi penduduk yang lebih banyak lelakinya dari pada perempuan.

Mengapa kita tidak membiarkan saja alam mengatur seperti iramanya.
Saya sering bertemu dengan permintaan pasangan akan jenis kelamin tertentu. Kebanyakan menginginkan anak laki-laki.
Haruskah kita memilih ?
Buku ini memberikan pedoman praktis. Walau saya masih belum terlalu yakin dengan klaim keberhasilannya. 
Dan jika benar buku ini bestseller, ini membuktikan bahwa masih sangat banyak orang memilih jenis kelamin untuk anaknya.

Hmmmm.....................
...

2 comments:

penulisinthink said...

memang sebaiknya alam saja yang memilihkan jenis kelamin anak kita, tapi.. bukankah lebih hebat jika kita seakan dapat mengatur alam, jika dapat memilih sendiri jenis kelamin anak. kenapa tidak?

misalnya, berharap memiliki anak laki dahulu baru anak perempuan?
atau, bila sudah banyak anak laki", ingin memiliki anak perempuan...dan sebaliknya...
karena alam yang memilihkan = gambling.

saya pikir... buku ini paling tidak memberi jawaban permasalahan itu... =D
terima kasih sudah mampir k blog saia dok.^^

I Nyoman Hariyasa Sanjaya,Dr,SpOG said...

Soal gender ini ternyata menjadi beban sosial yang berat. Pada kultur masyarakat tertentu yg meletakkan lelaki lebih superior dari wanita ini akan sangat menyusahkan. Karena manusia tdklah memiliki hak pilih untuk gender ini. Dan jika ini dibiarkan bisa terjadi genderside. Dan akan sangat membahayakan. Seperti di China, ketentuan satu anak dalam mengendalikan jumlah penduduk yg diterapkan oleh pemerintahan China, mengakibatkan terjadinya aborsi yg tinggi pada kehamilan dengan janin perempuan, karena masyarakat China lebih memilih lelaki sebagai penerus keturunan.
Di negara berkembang yg tidak ada pembatasan jumlah penduduk spt Indonesia, keadaaan ini akan memaksa seorang wanita untuk terus dan terus hamil sampai mendapatkan anak dengan jenis kelamin yg diinginkannya. Sungguh tidak bijaksana.
Yang harus dirubah adalah pandangan yg membedakan laki dan perempuan.

Itu esensi permasalahannya.